Kemampuan komunikasi CEO

Kemampuan komunikasi CEO tentu menjadi salah satu hal penting yang terus menerus diasah. Berbagai materi komunikasi bagi CEO sebenarnya mudah diterapkan. Akan tetapi faktanya, di lapangan seringkali muncul beragam kendala yang membuat seorang CEO harus mampu beradaptasi. Skill dasar berkomunikasi dibuat sedemikian rupa agar efektif saat digunakan person to person. Kemungkinan terjadinya miskomunikasi pun cukup rendah.

Pada skala kelompok kecil misalkan terdiri dari 2 hingga 7 orang, komunikasi person to person masih dapat diterapkan meskipun sudah tidak terlalu efektif. Sayangnya CEO sendiri memiliki keterbatasan untuk dapat bicara secara personal pada semua karyawan di perusahaan. Bayangkan jika di perusahaan terdapat 1000 karyawan, berapa waktu dan tenaga yang harus dikeluarkan jika CEO melakukan komunikasi personal pada semua karyawannya?

Demi mengatasi hal tersebut, CEO perlu memiliki kemampuan komunikasi berupa bicara pada skala besar sebuah grup namun tetap efektif seperti saat melakukannya secara person to person. Hal tersebut tentu cukup sulit, namun memungkinkan untuk dipelajari. Sebagai CEO, kemampuan berkomunikasi Anda memang harus juara.

Perbedaan bicara dalam skala individual dengan kolompok

Orang yang lancar berbicara dalam skala individu belum tentu mampu bicara di hadapan kelompok. Bahkan orang yang telah biasa bicara di hadapan kelompok kecil bisa jadi kebingungan saat berhadapan dengan kelompok besar. Hal itu normal terjadi sebab teknik yang dibutuhkan memang berbeda.

Bayangkan jika Anda terbiasa bicara hanya dengan satu dua orang di ruangan kecil, kemudian harus bicara di aula dan didengarkan 1000 orang. Tentu rasanya akan sangat berbeda. Anda butuh persiapan matang, materi menarik, serta mental yang kuat. Sebagai CEO kemampuan komunikasi tersebut sangat dibutuhkan.

Kesempatan Anda dapat berbincang secara langsung dengan para karyawan cukup terbatas karena berbagai faktor seperti kesibukan, ada hal lain yang lebih prioritas, dan lain sebagainya. Padahal salah satu hal penting yang perlu dilakukan untuk membangun ikatan dan koneksi adalah melalui obrolan.

Oleh karena itu, CEO perlu menyiapkan diri bicara langsung di hadapan seluruh karyawan dalam jumlah besar. Entah itu pada acara seminar internal, pertemuan tahunan, atau semacam diklat singkat, Anda sudah harus siap. Pastikan Anda mengetahui perbedaan bicara dalam skala individu dengan dalam kelompok seperti berikut ini.

  1. Memotong pembicaraan

Semakin banyak karyawan yang berada dalam ruangan dan mendengarkan Anda, maka semakin banyak pula yang tidak sabar ingin memotong omongan Anda. Banyak orang tidak mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Mereka hanya mendengar untuk bersiap berbicara. Namun, pada skala komunikasi besar seperti dalam seminar internal misalnya kesempatan memotong pembicaraan menjadi lebih sulit.

Berbeda ketika Anda berbicara person to person. Anda bisa berkomunikasi dengan sangat baik sebab fokus hanya tertuju pada satu orang. Berbagai cara seperti menggunakan pose dan gestur yang tepat bisa membuat karyawan mendengarkan Anda dengan serius. Hal itu akan membuat karyawan enggan memotong pembicaraan Anda.

Akan tetapi, ketika komunikasi person to person terjadi maka kesempatan memotong pembicaraan sangat tinggi dan lebih mudah dilakukan. Kemungkinan terjadi diskusi mendalam atau perdebatan juga lebih tinggi ketika komunikasi terjadi person to person daripada ketika dalam kelompok besar.

  1. Perasaan bosan

Jika Anda bisa dengan mudah mendeteksi perasaan bosan karyawan yang berhadapan dengan Anda saat mengobrol, hal tersebut tidak berlaku saat Anda bicara di hadapan 1000 orang. Memprediksi rasa bosan 1000 orang bukan perkara mudah, namun bukan berarti tidak mungkin. Semua bisa dilakukan selama Anda sudah memahami cara yang tepat.

Dari seribu orang, tentu tidak mungkin 100% merasa tertarik dengan apa yang Anda bicarakan. Setidaknya akan ada 10% yang merasa bosan, enggan, tidak setuju, bahkan lelah mendengarkan Anda bicara. Hal tersebut wajar terjadi. Anda memang tidak bisa mengontrol karyawan yang mendengar Anda sepenuhnya.

Agar bisa bicara menyenangkan dan tidak membosankan, Anda perlu banyak belajar. Tonton berbagai video pengisi seminar dan baca buku referensi. Latihan berbicara di depan umum juga perlu dilakukan supaya kemampuan komunikasi semakin mahir.

  1. Salah mengartikan pesan

Saat berkomunikasi person to person, risiko miskomunikasi bisa dibuat seminimal mungkin. Anda bisa memastikan apakah karyawan paham maksud informasi yang disampaikan dengan bertanya langsung. Anda juga bisa menyampaikan informasi secara lebih detail sehingga karyawan tidak akan kebingungan.

Sayangnya saat berkomunikasi dalam kelompok kemungkinan miskomunikasi meningkat tajam. Perspektif orang berbeda-beda dan akan ikut terlibat dalam mengartikan pesan yang Anda sampaikan. Lebih sulitnya lagi, Anda tidak dapat melakukan konfirmasi satu persatu apakah mereka sudah padam dengan maksud Anda atau belum.

  1. Penggunaan obrolan selingan

Obrolan selingan di luar informasi inti perlu diberikan jika durasi bicara Anda cukup lama. Hal tersebut untuk membuat otak kembali fresh serta mengurangi ketegangan. Saat bicara person to person, Anda dapat menyesuaikan obrolan selingan dengan minat lawan bicara.

Dalam ruangan yang lebih besar, Anda tidak bisa menuruti selera semua orang. Untuk amannya, Anda dapat menggunakan obrolan selingan yang umum saja. Misalnya sedikit membicarakan berita yang sedang ramai dan berhubungan dengan bisnis atau bertanya tentang feedback mengenai fasilitas baru dari perusahaan.

Tips saat bicara di kelompok besar

Semua hal akan semakin mahir jika terus menerus dipraktekkan termasuk skill komunikasi Anda sebagai CEO. Pada awalnya, Anda tentu akan merasa grogi dan khawatir saat bicara di depan ruang yang besar dengan pendengar yang banyak. Selama kemampuan tersebut terus dilatih, maka skill komunikasi Anda pun akan membaik. Berikut ini merupakan beberapa tips yang dapat diterapkan ketika Anda bicara di hadapan ratusan karyawan.

  1. Pancing perhatian

Saat Anda menyampaikan informasi di depan banyak karyawan sekaligus, kontak mata tetap perlu dilakukan. Sesekali, tatap mata salah satu pendengar dengan seksama. Pilih karyawan yang memang sejak awal telah menatap lurus pada mata Anda. Setelah itu, pindahkan tatapan pada karyawan lain.

Hal itu bertujuan untuk memancing perhatian audience yang lain. Secara natural individu ingin mendapat perhatian. Para karyawan lain pun akan memperhatikan Anda sambil berpikir kapan akan mendapat kontak mata tersebut. Sikap ini efektif membuat kelompok karyawan tetap fokus pada apa yang Anda katakan.

  1. Bangun rasa percaya

Ketika berbicara di hadapan banyak karyawan sekaligus, tujuan Anda bukan sekadar menyampaikan informasi saja. Anda sedang membangun ikatan terhadap karyawan perusahaan. Untuk itu, Anda harus bicara secara yakin sehingga dapat membangun rasa percaya karyawan terhadap Anda sebagai pemimpin, sekaligus terhadap perusahaan.

  1. Siapkan ice breaking

Bicara dengan durasi di atas 20 menit dalam kelompok besar bukan hal mudah. Artinya informasi yang disampaikan cukup panjang dan mungkin detail. Untuk menghindari kebosanan, Anda perlu menyiapkan ice breaking. Hal ini merupakan bagian dari kemampuan komunikasi CEO, lho!

Jenis ice breaking yang dapat digunakan sendiri bermacam-macam tergantung style berkomunikasi Anda. Anda bisa melemparkan lelucon, mengajak bermain game ringan, atau memutarkan video yang jauh berbeda dari topik pembicaraan.

  1. Tenang dan percaya diri

Menyiapkan ekspektasi di awal perlu dilakukan. Anda harus menyadari bahwan pesan yang disampaikan di depan 1000 karyawan tidak mungkin tersampaikan 100%. Beberapa karyawan pasti akan mengalami miskomunikasi. Hal itu normal terjadi sebab daya tangkap masing-masing orang memang berbeda.

Dengan kesadaran tersebut, maka Anda harus tetap menyampaikan informasi dengan tenang. Usahakan tidak bicara terburu-buru, artikulasi jelas, dan suara yang tegas. Tunjukan sikap percaya diri sehingga aura Anda sebagai seorang CEO dapat tersalurkan pada seluruh karyawan yang berada di ruangan tersebut.