tips wfh efektif

Sepekan terakhir ini, Indonesia kembali mengumumkan bahwa kasus Covid 19. Bahkan di beberapa kota besar ketersediaan ranjang pasien menipis. Hal ini dibuktikan dengan penetapan siaga I Covid-19 di Bandung Raya oleh Ridwan Kamil. Akibatnya ia menginstruksikan perkantoran untuk WFH. Sedangkan di Jakarta kondisinya hampir sama. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pun mengarahkan hal yang sama. Ia menerbitkan Keputusan Gubernur Nomor 759 Tahun 2021. Keputusan ini berisi pemberlakuan aturan jumlah karyawan bekerja dari rumah atau Work from Home (WFH) sebesar 75 persen khusus perkantoran yang berada di zona merah Ibu Kota. 

Kebijakan WFH hingga kini masih menjadi kekhawatiran bagi beberapa pelaku bisnis. Sebagian dari mereka menganggap bahwa sistem ini berpotensi menurunkan efektivitas kerja. Selain itu mereka kesulitan untuk menjalin komunikasi dengan karyawannya. Sistem kerja WFH dianggap memiliki berbagai tantangan yang menyulitkan, sehingga masih banyak yang enggan menerapkan sistem ini meskipun sudah diberi himbauan. Lalu sebenarnya apa saja kendala yang berpotensi menyebabkan sistem kerja WFH dinilai kurang efektif?

 

Banyak distraksi 

Bila dibandingkan antara bekerja di rumah dan di kantor, tentunya situasinya sangat berbeda. Apalagi bagi karyawan yang sudah berkeluarga dan memiliki anak di rumah. Saat ingin mengerjakan sesuatu, ada saja distraksi yang datang. Salah satu contohnya adalah anak yang terus bertanya dan menginginkan ini dan itu. Selain itu, “tarikan magnet” kasur sangat kuat menggoda iman para karyawan. Sehingga pekerjaan tak jarang tak terselesaikan sesuai target waktu. 

Sering terjadi miskomunikasi  

Banyak pelaku bisnis mengeluhkan hal ini. Saat menjalankan sistem WFH, komunikasi adalah hal yang sangat vital. Sekaligus menjadi tantangan yang perlu dihadapi dengan baik. Namun realitanya saat sedang menjalankan WFH, banyak karyawan yang kerap susah dihubungi. Sehingga terjadi kendala untuk melakukan koordinasi tim dan berujung terjadi miskomunikasi. 

Gangguan internet

Satu-satunya cara menjalin komunikasi dengan tim saat WFH adalah melakukan komunikasi tidak langsung atau secara virtual. Dengan adanya kecanggihan teknologi yang ada sekarang, meskipun berjarak, semuanya bisa dijalankan termasuk kebutuhan berkomunikasi. Namun hal ini terkadang menjadi boomerang tersendiri bagi sebagian orang. Tak jarang gangguan internet menjadi tantangan yang perlu diatasi. Saat berlangsung meeting, kerap ditemui beberapa karyawan atau leader yang tiba-tiba menghilang dari meeting virtual. Ternyata hal tersebut disebabkan karena gangguan internet. Hal ini mengakibatkan komunikasi yang dilakukan kurang efektif. 

Penurunan motivasi kerja 

Sistem kerja WFH terbukti menurunkan motivasi kerja sebagian karyawan. Sebab suasana yang terjadi di rumah dan di kantor sangatlah berbeda. Saat di kantor karyawan akan bertemu dengan rekannya dan terjadi komunikasi di situ. Selain itu, terdapat atasan yang akan secara langsung mengawasi kinerja karyawan. Sehingga karyawan merasa harus melakukan pekerjaan secara maksimal. Beda halnya saat bekerja dengan sistem WFH. Karyawan tidak merasakan suasana serupa. Sehingga sering ditemui pekerjaan yang telat dari deadline yang sudah ditentukan. Hal ini menjadi tanda bahwa mereka tengah mengalami penurunan motivasi kerja. 

Beberapa poin di atas adalah kendala yang kerap dihadapi para pelaku bisnis. Alasan-alasan tersebut menjadi pertimbangan untuk memutuskan sistem kerja seperti apa yang cocok dijalankan saat ini. Namun perlu Anda ketahui, meskipun keefektifannya banyak diragukan, faktanya sistem WFH masih menjadi aturan kerja paling efektif saat ini. Di balik berbagai kelemahan dan kendala yang bisa ditimbulkan, nyatanya kebijakan sistem kerja ini menjadi upaya efektif untuk meminimalkan risiko penularan Covid-19. Apalagi salah satu lahan subur penyebaran virus ini berasal dari klaster perkantoran. 

Bagi Anda yang masih menimbang-nimbang keputusan sistem kerja WFH, beberapa tips WFH efektif ini bisa diterapkan di perusahaan Anda. Sehingga Anda tak perlu khawatir dengan mengambil keputusan tersebut. 

 

Tentukan jam kerja yang jelas dan tegas 

Banyak karyawan yang akhirnya salah menanggapi sistem kerja WFH menjadi ‘semi libur’. Sebab pengawasan kinerja tak seketat saat bekerja di kantor. Sehingga mereka cenderung menanggapi pekerjaan dengan lebih santai khususnya waktu deadline. Nah, untuk menghindari hal semacam ini, Anda perlu tegas dalam menentukan jam kerja selama WFH. Misalnya pada saat WFH, jam kerja dimulai dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Pada saat itulah, berilah penegasan pada karyawan untuk selalu online dan fast respon. Sehingga koordinasi antar tim bisa dilangsungkan dengan mudah. 

Minta tim untuk buat laporan harian 

Cara ini terbukti sangat membantu dalam melacak dan mengawasi kinerja tim. Anda bisa memastikan produktivitas karyawan tetap terjaga. Mintalah kepada karyawan Anda untuk membuat laporan harian atau update mengenai apa-apa yang dikerjakan pada hari itu. Selain itu mintalah karyawan untuk memberikan bukti pekerjaan yang sudah dikerjakan sesuai laporan yang mereka buat. Sehingga karyawan tak akan bisa memanipulasi laporan yang ada. Dari sinilah Anda juga bisa melakukan evaluasi terkait efektivitas sistem WFH bagi perusahaan Anda. 

Temukan cara komunikasi paling efektif 

Cara ini mungkin nampak sedikit ‘ribet’. Namun hal ini perlu Anda lakukan. Buatkan voting untuk mengetahui bentuk komunikasi seperti apa yang paling nyaman untuk dilakukan bersama tim. Apakah menggunakan Skype misalnya, atau justru Zoom Meeting adalah cara paling efektif. Kemudian lakukan testing, untuk menilai keefektifannya.  Meskipun cukup memakan waktu, tapi setidaknya upaya ini bisa membantu Anda berkomunikasi untuk ke depannya. 

Berikan dukungan emosional 

Saat Anda memutuskan untuk menerapkan sistem WFH, artinya Anda juga perlu melakukan upaya untuk memastikan kondisi karyawan Anda tetap ‘waras’. Sebab stress, gangguan kecemasan dan rasa kesepian rentan dialami mereka. Berikan perhatian lebih pada karyawan. Minimal perusahaan memiliki andil untuk memberikan dukungan emosional pada setiap anggota tim. Pada waktu tertentu, luangkanlah waktu untuk menanyakan keadaan mereka, dengarkan keluh kesah yang mereka alami. Upaya ini mampu memupuk dan membangun kepercayaan diri karyawan. Sehingga mereka akan lebih siap untuk menerima segala tantangan dalam pekerjaan. Ingat, bahwa Anda bekerja bersama manusia, jadi berikan treatment yang manusiawi dan manusiakanlah mereka layaknya manusia. 

Selama WFH diterapkan, tak ada salahnya Anda meminta kritik dan saran kepada karyawan  terhadap kebijakan yang ada. Meskipun penerapan WFH nyatanya lebih sulit dibandingkan bekerja langsung di kantor. Namun sistem ini adalah keputusan terbaik untuk beradaptasi dengan kondisi saat ini. Tak ada yang sulit bila Anda terus melakukan evaluasi dan perbaikan. Semoga bermanfaat!