CEO Sukses

CEO sukses disertai banyak hal termasuk caranya berkomunikasi dengan karyawan. Berkomunikasi dengan karyawan tentu tidak hanya sekadar bicara saja. Menganggap diri sebagai bos dan selalu ingin dimengerti adalah awal mula Anda kehilangan respect dari karyawan. Saat berkomunikasi, Anda perlu berusaha agar apa yang disampaikan dapat dipahami.

Saat berkomunikasi dan pesan Anda tidak tertangkap dengan baik, jangan langsung menyalahkan karyawan. Tanyakan terlebih dahulu pada diri sendiri: “Sudah jelaskah penyampaian saya pada mereka?”. Berkomunikasi secara tegas tidak akan berguna jika Anda tidak menyampaikannya dengan jelas. Dalam hal ini, kejelasan menjadi hal penting dalam sebuah alur komunikasi dari CEO terhadap karyawannya.

Mengapa CEO harus selalu memberi kejelasan saat berkomunikasi?

Saat berbicara dengan karyawan, Anda perlu memberikan kejelasan baik dari segi bahasan yang disampaikan maupun cara menyampaikannya. Tanpa kejelasan, maksud Anda tidak akan tertangkap dengan utuh oleh karyawan. Bahkan terkadang dengan sudah berkomunikasi secara jelas pun masih mungkin terjadi miskomunikasi, lho!

Saat komunikasi telah mengandung kejelasan maka hal itu mempengaruhi kinerja karyawan. Maksudnya, jika informasi tertangkap dengan jelas maka karyawan mampu bekerja dengan lebih maksimal. Perusahaan pun akan turut mendapatkan dampak baik dari hal tersebut. Tidak hanya itu, terdapat berbagai manfaat memberi kejelasan saat berkomunikasi dengan karyawan bagi CEO yaitu:

  • Menghindari kesalahan komunikasi yang menyebabkan kerugian bagi perusahaan.
  • Membuat aksi dapat segera dilakukan karena telah memahami alur pengerjaan dengan jelas.
  • Meraih tujuan dengan lebih cepat sebab telah mampu bekerja dengan terarah.
  • Mengurangi kebingungan dengan komunikasi jelas yang bebas ambigu.

Tips berkomunikasi secara jelas

Kemampuan berkomunikasi pada seorang pemimpin tidak muncul secara tiba-tiba. Untuk menjadi CEO sukses tentu dibutuhkan proses belajar dan penerapan terus menerus sehingga kemampuan berkomunikasi terasah dan semakin tajam. Agar dapat berkomunikasi secara jelas, tips mudah berikut ini dapat Anda coba.

1. Perhatikan bahasa yang digunakan

Sebuah ungkapan berbunyi ‘mulutmu harimaumu’ memiliki arti bahwa apa yang Anda ucapkan dari mulut dapat menjadi bumerang yang berbahaya untuk diri sendiri jika tidak tepat. Bagi seorang CEO, pemilihan bahasa yang digunakan menjadi penting saat bicara. Bukan hanya jenis bahasanya saja, namun juga pemilihan kata saat menyampaikan sesuatu dapat mempengaruhi kejelasan informasi.

Saat Anda sedang bicara tentang target jangka pendek perusahaan bulan depan, tentu Anda akan menggunakan bahasa yang lebih tegas. Menggunakan kalimat seperti “Kita pasti bisa mencapai target berikut ini di bulan depan sebab kalian adalah karyawan-karyawan terbaik”, tentu membuat komunikasi lebih nyaman dibandingkan dengan “Saya ingin target berikut ini tercapai bulan depan lewat kalian”.

Selain itu, pilihan kata juga harus sangat diperhatikan. Misalnya kata ‘harus’ dan kata ‘sebaiknya’. Keduanya merupakan jenis kata yang mirip namun menunjukkan tingkat prioritas yang berbeda. Apabila prioritas tinggi dan perlu segera dilakukan, pilih kata ‘harus’ daripada kata ‘seharusnya’.

2. Bicara secara spesifik

Beberapa hal kurang nyaman untuk dibicarakan secara detail sehingga terkadang percakapan pun hanya diungkapkan dalam bentuk umumnya saja. Hal itu perlu dihindari sebab dapat memicu miskomunikasi yang parah. Sebagai CEO, Anda perlu bicara secara spesifik saat menyampaikan sesuatu meski hal tersebut sulit disampaikan.

Contoh yang mungkin terjadi yaitu saat Anda terpaksa harus megurangi jumlah karyawan di perusahaan akibat pandemi melanda. Sampaikan secara detail dan spesifik tentang mengapa hal tersebut perlu dilakukan, bagaimana sistem pemilihan pengurangan karyawan, serta hal lain yang terkait. Penyampaian yang spesifik akan membuat karyawa memahami sesuatu dengan lebih mudah.

3. Jangan terbata-bata

Meski sedang grogi, Anda perlu tetap menjaga cara mengucapkan kalimat sehingga tidak terdengar terbata-bata. Perhatikan artikulasi agar tetap jelas sehingga tidak membingungkan karyawan Anda yang sedang mendengarkan. Terbata-bata serta artikulasi yang kurang jelas juga sering terjadi saat Anda sedang terburu-buru atau ingin bicara singkat.

Misalnya ketika Anda sedang menyampaikan kebijakan baru di perusahaan terkait dengan jam kerja. Anda merasa grogi sebab telah diprediksi bahwa kebijakan tersebut akan memicu polemik internal sebab tentunya sebagian karyawan tidak akan menyepakati hal tersebut. Rasa grogi tersebut bisa membuat Anda bicara terbata-bata.

Hindari bicara terbata-bata dengan cara melatih diri sebelumnya. Melatih diri berbicara masih bisa terus dilakukan meski Anda merasa telah lancar. Latihan bukan menjadi indikasi bahwa kemampuan komunikasi rendah, namun menunjukkan Anda sebagai orang yang penuh persiapan. CEO sukses tentu tidak pernah berhenti melatih dirinya sendiri.

4. Pastikan suara terdengar baik

Selain artikulasi yang jelas serta tempo yang tepat, Anda juga harus memperhatikan suara ketika berkomunikasi. Bayangkan jika Anda berkomunikasi di aula dengan pendengar sebanyak 500 orang. Penggunaan mikrofon memang dapat membantu, namun Anda perlu menyiapkan kemungkinan terburuk seperti kendala teknis.

Saat kendala teknis terjadi, Anda semestinya telah memiliki persiapan untuk mampu bersuara lantang. Agar mengurangi usaha untuk bersuara terlalu lantang dan keras, Anda perlu memiliki kemampuan membuat karyawan terdiam hening. Untuk membuat suasana hening bisa menggunakan postur tubuh, cara menatap, serta aura bijaksana yang Anda perlihatkan.

Perhatikan pula bahwa Anda hanya perlu bicara dengan suara yang cukup terdengar saja. Artinya, suara yang terlalu keras dan lantang juga perlu dihindari. Mengapa demikian? Hal itu dapat memberi kesan Anda arogan dan galak sebagai seorang pemimpin.

5. Fokus pada hal yang perlu dikomunikasikan

Dalam hal berkomunikasi, fokus saat bicara merupakan salah satu kunci menjadi CEO sukses. Saat bicara, banyak orang mudah teralihkan perhatiannya. Hal itu membuat fokus pembicaraan bergeser dan komunikasi menjadi kurang efektif. Selain itu, waktu yang diperlukan untuk berbicara pun menjadi lebih lama dan menimbulkan rasa lelah.

Agar Anda tetap fokus pada hal yang ingin disampaikan, maka sebaiknya bicara sesuai urutan kerangka yang telah dibuat. Sebisa mungkin hindari pembicaraan spontan dan tidak terstruktur.  Hal semacam itu sangat mungkin menyebabkan fokus pembicaraan melebar.

6. Hindari bersikap ambigu

Maksud dari seorang pemimpin tidak akan dipahami oleh karyawan dan malah bisa membuat bingung jika sering muncul sikap ambigu. Yang dimaksud dengan ambigu yaitu sesuatu yang kurang jelas dan samar sheingga memunculkan banyak kemungkinan interpretasi. Sikap ambigu akan membuat pemahaman karyawan menjadi berbeda-beda.

Ketika Anda menyampaikan “Saya tidak suka karyawan yang terlambat” tanpa diberi keterangan tambahan, maka hal tersebut bersifat ambigu. Karyawan dapat mengartikan bahwa sering terlambat berarti sulit naik gaji, sulit naik jabatan, tidak masalah asal tidak sering, dapat dipecat, atau berbagai interpretasi lainnya. Banyaknya penafsiran membuat karyawan menunjukkan sikap berbeda terhadap apa yang telah Anda sampaikan. Untuk mengindari hal tersebut, ambigu harus dihilangkan saat berkomunikasi.

7. Tentukan ekspektasi sebagai pembicara

Memahami kapasitas lawan bicara juga menjadi penentu apakah komunikasi Anda nantinya menjadi jelas atau tidak. CEO sukses harus mampu menakar kapasitas lawan bicaranya. Bayangkan jika lawan bicara Anda tidak menguasai bahasa Inggris dengan baik namun Anda memaksakan diri menyampaikan sesuatu dalam bahasa Inggris. Tentunya risiko terjadi kesalahan informasi menjadi meningkat.

Saat berkomunikasi dengan karyawan, Anda perlu memahami posisi mereka. Tentukan ekspektasi Anda sebagai pembicara sehingga penyampaian informasi menjadi lebih jelas. Jangan ragu untuk mengubah gaya bahasa jika diperlukan misalnya menjadi lebih santai atau lebih persuasif.

8. Mintalah respon dengan bertanya

Saat menyampaikan sesuatu, Anda dapat meminta respon karyawan. Tanyakan apakah mereka memahami komunikasi Anda. Bisanya respon berupa anggukan atau jawaban ‘saya mengerti’ merupakan indikasi bahwa informasi disampaikan dengan baik. Meski demikian hal tersebut tidak cukup. Setelah menyampaikan informasi, tanyakan tentang hal yang baru saja Anda sampaikan. Karyawan akan menjelaskan maksud pembicaraan yang dia tangkap. Jika memang sudah sesuai artinya Anda telah berkomunikasi dengan jelas dan maksud tertangkap dengan baik.