7 Tantangan Bisnis Kuliner Ini Sering Diabaikan

by -24 views
Tantangan Bisnis Kuliner
Tantangan Bisnis Kuliner. Sumber gambar: unsplash.com

Tantangan bisnis akan selalu hadir. Apapun jenis bisnis Anda, kesulitan akan selalu muncul termasuk dalam dunia kuliner. Tantangan bisnis kuliner bahkan dapat dikatakan cenderung lebih riskan. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Bisnis kuliner kerap disebut sebagai bidang bisnis roller coaster. Maksudnya bisnis jenis kuliner dianggap mudah naik namun juga mudah turun.

Meskipun begitu, bidang bisnis satu ini bisa sangat menguntungkan bagi pelakunya. Hal itu dikarenakan makanan merupakan kebutuhan pokok manusia. Setiap orang pasti membutuhkan asupan makanan. Era milenial turut serta mempengaruhi kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi makanan. Dengan kesibukan dan banyak hal yang serba cepat, masyarakat kini cenderung memilih membeli makanan matang daripada harus memasak sendiri.

Dari situ bisa disimpulkan bahwa bisnis kuliner memiliki peluang sukses lebih besar. Akan tetapi hal itu hanya bisa dicapai jika Anda menjalankan bisnis dengan tepat. Saat pertama memulai usaha kuliner menjadi waktu yang krusial. Mental perlu disiapkan untuk kemungkinan terburuk. Perencanaan bisnis harus dibuat sematang mungkin terutama untuk mengantisipasi perubahan selera pasar. Tidak hanya itu, terdapat 7 tantangan bisnis kuliner lainnya yang perlu dipahami. 

1.Memiliki target pasar yang jelas 

Persaingan bisnis terutama di bidang kuliner kini semakin ketat. Para pelaku bisnis kuliner pun harus memutar otak supaya mampu bertahan dalam kerasnya persaingan tersebut. Salah satu unsur paling penting agar mampu bersaing yaitu memiliki target pasar yang tepat dan jelas. Beberapa pebisnis memetakan target pasar dengan serampangan: orang yang dianggap suka produk mereka, ibu rumah tangga, karyawan perempuan, dan lain sebagainya. 

Klasifikasi target pasar tersebut masih kurang spesifik dan konkrit. Untuk menentukan target pasar Anda, banyak unsur yang perlu diikutsertakan. Apa saja itu? Unsur tersebut meliputi usia, perilaku target, pekerjaan, hingga jenis kelamin. Setelah diputuskan target pasar secara spesifik, maka kinerja strategi marketing pun akan lebih mudah. 

Penentuan target pasar ini sebaiknya disesuaikan dengan produk atau jasa yang Anda miliki. Penyesuaian ini bisa ditentukan dari segi fungsi, harga, dan citra produk. Meskipun begitu, hal ini bukan berarti Anda dilarang menjual produk kepada orang yang bukan target pasar. Pada dasarnya Anda dapat menjual produk pada semua orang. Upaya pemetaan target pasar dilakukan dengan tujuan mencapai pemasaran yang lebih efektif.

Seperti yang sudah disebutkan tadi, bayangkan bila usaha Anda misalnya adalah bisnis makanan Korea. Anda tidak mungkin melakukan pemasaran kepada golongan ibu rumah tangga yang tinggal di pedesaan, bukan? Upaya semacam itu tentunya hanya akan membuang waktu dan biaya pemasaran saja. Sebaliknya, target market yang tepat dan jelas akan membantu kinerja stategi marketing Anda lebih mudah diterima. Selain itu divisi pemasaran akan bekerja lebih efektif. 

2. Menyiapkan daftar menu secara matang 

Bayangkan ketika Anda mengunjungi sebuah restoran dan tidak tersedia menu di dalamnya? Aneh bukan? Tentunya hal tersebut akan membuat Anda kebingungan saat memilih makanan. Apalagi bila Anda baru pertama kali berkunjung ke restoran tersebut, situasi ketiadaan menu akan menimbulkan perasaan canggung. Bahkan hal semacam itu dapat membuat pelanggan enggan berkunjung kembali, lho!

Perlu Anda ketahui, selain ketersediaan, penyajian menu juga perlu diperhatikan. Hal inilah yang kerap diabaikan oleh para pelaku bisnis kuliner. Daftar menu di dalam bisnis kuliner pada dasarnya memiliki peran besar untuk memaksimalkan usaha yang dilakukan. Daftar menu adalah garda utama ketika konsumen datang dan memutuskan pilihannya.

Sayangnya, unsur ini kerap diabaikan oleh para pelaku bisnis kuliner. Padahal daftar menu merupakan media untuk menunjukkan nilai yang dimiliki oleh setiap usaha kuliner. Dengan menggunakan daftar menu, Anda bisa lebih mudah menunjukkan tentang produk apa saja yang Anda tawarkan. Selain itu, secara tidak langsung Anda bisa dengan gampangnya menggiring konsumen untuk memilih menu terbaik yang diharapkan. Menariknya, daftar menu ternyata terbukti mampu meningkatkan penjualan bisnis kuliner.  

3. Menemukan patner yang tepat 

Tak jarang para pelaku bisnis kuliner mengalami dilema saat mengawali usaha. Rasa bingung seringkali muncul terkait apakah bisnis akan dijalankan sendiri atau bersama partner. Hal ini tentu menjadi salah satu tantangan bisnis kuliner yang cukup berat. Sebagian dari Anda memiliki berbagai pertimbangan untuk memiliki partner bisnis. Rasa takut bila sewaktu-waktu terjadi perbedaan pendapat menjadi pertimbangan saat akan memilih patner. Perubahan visi juga seringkali membuat khawatir sehingga sebagian orang memilih tidak menggunakan patner.

 Akan tetapi, tahukah Anda bahwa memiliki patner bisnis yang tepat adalah hal yang cukup penting. Mengapa demikian? Dengan mempunyai patner bisnis maka akan membawa pengaruh positif. Selain itu, pebisnis akan semakinberkembang dan memiliki jangkauan konsumen yang luas dengan berpatner. Meski demikian, memilih untuk tidak memiliki patner dalam bisnis kuliner juga bukan sebuah kesalahan. Hanya saja jika dipertimbangkan dari segi untung rugi, memiliki patner dalam bisnis bisa memberikan banyak keuntungan, lho!

Saat Anda memiliki partner, kemungkinan munculnya peluang dan ide baruu di dalam bisnis menjadi lebih besar. Hal ini dikarenakan adanya orang lain untuk diajak berunding serta berkolaborasi dengan tujuan yang sama. Selain itu, saat Anda mempunyai partner bisnis maka akan ada kesempatan besar untuk membuka jaringan sosial yang lebih luas. Terbentuknya jaringan sosial tersebut memungkinkan untuk memunculkan pasar baru. Artinya, hal ini akan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan bisnis Anda. 

4. Memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan 

Pernahkah Anda mendengar ungkapan: pembeli adalah raja? Ungkapan tersebut memiliki arti yaitu dalam bisnis, kepuasan pelanggan merupakan hal utama. Hal ini tentu saja menjadi salah satu tantangan bisnis kuliner yang tidak dapat diabaikan. Tanpa pelanggan yang puas, maka bisnis kuliner Anda tidak akan bisa bertahan lama.

Banyak sekali ditemukan cerita tentang kekecewaan pelanggan terhadap pelayanan di restoran atau tempat makan lainnya. Beberapa komplain yang sering muncul seperti kasir yang jutek, pegawai yang kurang ramah, penyajian makanan lama, serta cita rasa yang tidak sesuai ekspektasi pembeli. Lalu, bagaimana cara mengatasi hal tersebut?

Saat membuka bisnis kuliner, maka Anda perlu memperhatikan semua hal baik dari segi produk yang disajikan maupun pelayanan yang diberikan. Banyak restoran terkenal yang memiliki makanan nikmat namun mendapat banyak komplain buruk hanya karena pelayanan yang kurang maksimal. Segi pelayanan ini dapat membentuk citra bisnis Anda.

Pelanggan bisa saja kembali ke restoran Anda meski cita rasa makanan yang ditawarkan tidak terlalu istimewa jika pelayan sangat ramah. Hal itu sering terjadi sebab pertimbangan seseorang dalam memilih tempat makan kini semakin beragam dan tidak terpaku pada rasa makanan saja. Uniknya, dengan adanya kemajuan teknologi maka kini penilaian pelanggan terhadap suatu hal bisa tersebar dengan cepat.

Pelanggan yang puas bisa saja mengunggah pujiannya di media sosial dan hal itu menjadi marketing yang efektif. Banyak orang kemudian ingin mendatangi restoran Anda hanya karena ada satu orang pelanggan yang merasa puas. Jika citra baik tersebut bisa dipertahankan maka bisnis kuliner Anda akan semakin berkembang dengan pesat.

5. Memilih lokasi bisnis 

Pemilihan lokasi menjadi salah satu komponen utama dan sangat penting dalam menjalankan bisnis kuliner. Lokasi bisnis akan membantu Anda untuk bersaing secara efektif sehingga konsumen pun mampu menjangkaunya dengan mudah. Ada banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan dalam menentukan lokasi bisnis. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan tersebut meliputi kebersihan lingkungan sekitar, lokasi yang strategis, area yang memiliki parkir luas, hingga memilih lokasi yang dekat dengan target pasar yang sudah Anda tentukan. 

Misalnya Anda memiliki bisnis kuliner berupa Warung Makan Indomie (Warmindo). Akan lebih baik jika Anda memilih lokasi yang dekat dengan area kampus. Anda juga bisa memutuskan untuk mendirikan Warmindo di lingkungan rumah indekos. Hal itu dikarenakan target pasar yang cocok untuk Warmindo adalah mahasiswa.

6. Membangun identitas bisnis kuliner 

Sebagai seorang pebisnis tentunya harus memiliki proyeksi untuk membentuk identitas produk yang dimiliki. Lahirnya sebuah merek seringkali berawal dari produk yang berhasil dikenal masyarakat luas. Lalu, bagaimana caranya supaya masyarakat bisa mengenal produk Anda? Tentunya dengan membangun identitas itu sendiri. Apa sih untungnya memiliki identitas produk? Saat produk Anda telah berhasil dikenal masyarakat, target konsumen pun pastinya tidak akan ragu untuk membeli produk yang ditawarkan. Hal ini tentunya berdampak langsung ke tingkat penjualan di bisnis Anda.

Banyak yang tidak menyadari hal tersebut. Saat identitas produk berhasil dibentuk, secara tidak langsung produk Anda akan menjadi ‘top of mind’ banyak orang. Ambil contoh KFC. Mereka adalah salah satu bisnis kuliner yang telah berhasil membentuk identitasnya. Mereka telah berhasil menghipnotis banyak orang bahwa sajian ayam goreng terenak hanya di KFC. Padahal mungkin saja terdapat banyak ayam goreng yang lebih enak dari KFC. Hanya saja, KFC terlah berhasil menyita perhatian masyarakat dengan identitas bisnis yang telah dibentuk sedemikian rupa. 

 7. Mempertahankan cita rasa sajian kuliner 

Jika dilontarkan pertanyaan pada para pengunjung, “Gudeg mana yang akan dimakan saat berkunjung ke Jogja?”, maka sebagian besar memberikan jawaban Gudeg Yu Djum. Padahal di Jogja sendiri terdapat ratusan penjual gudeg, lho! Gudeg Yu Djum mampu bertahan selama puluhan tahun dan tetap eksis karena berhasil mempertahankan cita rasa sajiannya. 

Dalam membangun bisnis kuliner, menjaga rasa sajian merupakan ujung tombak. Beberapa pebisnis seringkali lalai menjaga cita rasanya ketika bisnis kuliner meraka mulai naik daun. Hal itu dilakukan umumnya dengan tujuan agar mampu meraih keuntungan lebih banyak. Konsistensi rasa dan porsi penyajian memang menuntut biaya bahan baku yang cukup tinggi dari waktu ke waktu.

Konsisten dari segi produk baik itu penyajiannya, porsi, rasa, hingga aroma tentu sulit untuk dilakukan selama bertahun-tahun. Itu sebabnya mempertahankan cita rasa sajian menjadi salah satu tantangan bisnis kuliner yang berat untuk dihadapi. Akan tetapi, jika mampu melewati tantangan tersebut, tentunya bisnis kuliner Anda dapat melegenda seperti Gudeg Yu Djum!