Bisnis impor

Salah satu jenis bisnis yang bisa memberikan keuntungan besar adalah bisnis impor. Anda bisa mendapatkan harga barang yang murah dari supplier kemudian bisa dijual kembali dengan harga yang ramah di kantong target pasar Anda. Namun, ada banyak tantangan jika Anda ingin menjalani bisnis yang satu ini.

Tantangan yang Anda hadapi yaitu mencari supplier yang terpercaya dan profesional hingga melengkapi surat-surat legal. Namun, Anda jangan khawatir sebab jika sudah mengetahui seluk beluk bisnis ini tentunya jalan Anda menjadi calon pengusaha akan lebih mudah. Lalu, bagaimana cara memulai menjadi importir dan apa saja yang harus disiapkan? Berikut ini adalah ulasannya.

Cara Memulai Bisnis Impor

Seperti yang telah disinggung sebelumnya jika menjalani bisnis ini cukup rumit. Ada beberapa langkah yang harus Anda pahami dan lakukan sebelum menjalankannya. Berikut ini adalah cara yang bisa dijadikan patokan sebelum Anda menjalankan bisnis impor.

1. Mengetahui informasi produk dan target pasar

Tahap pertama yang bisa Anda lakukan untuk memulai bisnis ini tentu saja mengetahui informasi produk yang akan diimpor serta siapa target atau calon pembelinya. Misalnya, Anda bisa membuat target pasar apakah laki-laki ataupun perempuan. Selain menurut jenis kelamin, Anda juga bisa menargetkan usia pembeli.

Anda juga bisa melakukan survei atau riset yang Anda jadikan sebagai target pasar Anda. Tanyakan pada para calon pembeli apakah mereka membutuhkan produk yang ingin Anda jual? Adakah alasan tertentu mengapa mereka ingin membelinya? Apabila Anda belum tahu produk apa yang ingin dijual, coba terlebih dulu melakukan riset atau survei terkait produk yang dibutuhkan.

Selain itu, Anda juga bisa melihat tren produk yang menarik banyak minat masyarakat. Selain itu, pastikan produk tersebut beresiko rendah, legal, dan aman untuk dikirim ke negara Anda. Jadi, sebelum Anda memulai bisnis ini, penting untuk Anda melakukan riset agar mengetahui banyak informasi seputar produk yang ingin dijual serta target pasarnya.

2. Mencari supplier yang tepat

Setelah mengetahui target market dan produk yang ingin di impor kemudian dijual, tahap selanjutnya yaitu mencari supplier atau pemasok barang. Anda bisa mencari supplier di platform online yang banyak tersedia di internet. Misalnya, jika Anda ingin melakukan impor produk dari Tiongkok, Anda bisa mencobanya di situs TaoBao, Alibaba, dan lain sebagainya.

Jika Anda tidak ingin melakukan cara tersebut, Anda juga bisa langsung ke negara tersebut. Hanya saja, di masa serba mudah seperti sekarang, Anda tidak perlu datang ke negara pemasok produk secara langsung. Anda bisa mencari supplier yang bisa membantu Anda dalam mendapatkan barang yang diinginkan. Tentu saja hadirnya supplier akan memudahkan Anda dalam menjalankan bisnis ini. Anda perlu juga membandingkan harga barang yang ditawarkan. Carilah supplier yang profesional  dan legal sehingga tidak menyulitkan Anda nantinya.

3. Mengetahui cara pembayarannya

Jika Anda sudah menemukan supplier yang tepat, langkah selanjutnya yaitu mengetahui cara pembayarannya. Ada beberapa cara pembayaran yang dikenal, mulai dari cash, barter, dan lain sebagainya. Anda juga bisa membayar via L/C sehingga membutuhkan Letter of Credit di Bank Devisa dan melampirkan Purchase Order barang yang diimpor.

Setelah itu, bank devisa yang ada di Indonesia akan menghubungi bank luar negeri untuk menghubungi supplier. Anda dan supplier bisa membuat perjanjian sesuai kesepakatan bersama dalam L/C. Jika hal ini sudah dilakukan, maka supplier akan menyiapkan barang yang Anda pesan dan diangkut ke pelabuhan negara tersebut untuk dikirim ke Indonesia.

4. Melengkapi dokumen

Langkah lainnya yaitu, Anda akan mendapatkan Document of Landing (B/L) yang dikirimkan oleh supplier. Dokumen tersebut bisa dikirim melalui email atau fax yang isinya berupa invoice, packing list, sertifikat karantina, form E atau D dan dokumen legal pendukung lainnya.

5. Membuat Pengajuan Impor Barang (PIB)

Selanjutnya, Anda sebagai importer bisa mengajukan PIB. Anda juga bisa mengirimkan dokumen PIB jika modul PIB dan EDI sistem sudah ada. Jika Anda tidak memiliki PIB dan EDI, maka Anda bisa menggunakan jasa pengurusan kepabeanan karena alur ini penting sebagai proses input dan pengiriman PIB.

Dengan adanya PIB, Anda bisa mengetahui PPH, jumlah bea masuk, dan pajak lain yang harus dibayarkan. Jika semuanya sudah selesai, Anda tinggal membayarkan pajak dan PNPB pada Bank Devisa yang kemudian akan dikirimkan ke sistem komputer pelayanan Bea dan Cukai. Proses yang satu ini memang rumit namun harus ditempuh hingga diterbitkannya Surat Perintah Pengeluaran Barang (SPPB) yang dicetak melalui modul PIB. Terakhir, barang yang dipesan bisa dikeluarkan dengan menunjukkan SPPB dan juga dokumen yang asli.

Pentingnya Tanda Pengenal Importir

Kini Anda sudah tahu bagaimana cara memulai bisnis impor yang tentunya akan menguntungkan. Namun, ada satu hal lainnya yang perlu diperhatikan yaitu Anda sebagai importir wajib melakukan registrasi Kepabeanan. Anda bisa mendaftarkan diri Anda di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai agar mendapatkan Nomor Identitas Kepabeanan (NIK).

Selain itu, Anda juga wajib mengurus Angka Pengenal Importir (API) sebagai tanda pengenal Anda menjadi importir yang legal. Terdapat dua jenis API, yaitu API-U (Umum) dan API-P (Produsen). API-U ditujukan untuk barang impor yang akan dijual kembali. Sedangkan API-P adalah untuk barang impor yang akan digunakan sendiri.

Dengan begitu, Anda bisa mendaftar untuk mendapatkan API-U dan melengkapi dokumen yang dipersyaratkan. Ada banyak dokumen yang perlu dilengkapi, mulai dari fotokopi akta notaris pendirian perusahaan, fotokopi izin usaha, fotokopi NPWP, hingga referensi dari bank devisa.

 

Itulah ulasan yang menarik tentang bagaimana cara memulai bisnis impor dan apa saja yang perlu Anda persiapkan. Dengan mengetahui informasi tersebut, tentunya Anda akan lebih mantap ketika ingin menjalankan bisnis impor. Pastikan pula Anda menjalani bisnis dengan konsisten dan serius agar hasil yang didapatkan maksimal.